• Jalan Lintas Sumbawa Besar - Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
single-event-img-1

Harapan yang Menyala di Tahun 2026

Langit malam itu tidak sepenuhnya gelap. Di ufuk timur, sisa cahaya senja masih menggantung, seolah enggan benar-benar pergi. Angin Desember berembus pelan, membawa aroma hujan dan tanah basah. Di sebuah kampung kecil di pinggir kota, suara takbir pergantian tahun bercampur dengan letupan kembang api yang sesekali memecah kesunyian.

Namanya Arga. Ia duduk sendirian di beranda rumah kayu peninggalan ayahnya, menatap langit dengan secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.57. Tinggal tiga menit lagi sebelum tahun 2025 resmi menjadi masa lalu.

Baginya, tahun 2025 adalah tahun yang berat. Terlalu banyak kehilangan, terlalu banyak luka yang belum sembuh. Ibunya wafat di awal tahun karena sakit yang datang terlambat disadari. Pekerjaannya sebagai jurnalis lepas kerap terhenti karena media-media tempatnya menulis gulung tikar satu per satu. Dan yang paling menyakitkan, mimpi besarnya tentang perubahan sosial seolah hanya menjadi catatan kecil yang terhapus oleh hiruk-pikuk dunia.

Namun malam itu, Arga tidak ingin mengutuk masa lalu. Ia ingin berdamai. “Dua ribu dua puluh enam,” gumamnya lirih. “Apa yang akan kau bawa?”

Ia teringat pesan terakhir ibunya sebelum pergi. “Kalau hidup terasa gelap, jangan bertanya kenapa. Bertanyalah untuk apa.” Kalimat itu sederhana, tapi selalu mengendap dalam kepalanya.

Detik demi detik berlalu. Suara hitung mundur mulai terdengar dari kejauhan.

“Sepuluh… sembilan… delapan…” Arga berdiri. Ia memejamkan mata. “Tiga… dua… satu…”

Tahun 2026 datang disambut sorak-sorai, kembang api, dan doa-doa yang melayang ke langit. Arga membuka mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum tipis. Bukan karena semuanya akan langsung berubah, melainkan karena ia merasa diberi kesempatan untuk memulai kembali.

Pagi pertama di tahun 2026 datang dengan hujan gerimis. Arga berjalan menuju warung kopi kecil di sudut kampung, tempat ia biasa menulis dan bertemu orang-orang. Warung itu milik Bu Ratna, seorang janda paruh baya yang selalu percaya bahwa kopi bisa menyembuhkan luka apa pun, asal diminum dengan sabar.

“Selamat tahun baru, Ga,” sapa Bu Ratna sambil menuangkan kopi.

“Selamat tahun baru, Bu. Semoga lebih ramah dari tahun kemarin,” jawab Arga. Bu Ratna tertawa kecil. “Tahun itu cuma angka. Manusianya yang harus belajar ramah.”

Arga mengangguk. Ia membuka laptop tuanya. Tidak ada surel masuk, tidak ada tawaran kerja. Namun pagi itu, entah mengapa, ia tidak merasa sesak. Ia justru mulai menulis.

Judulnya sederhana: “Harapan Baru di Tahun 2026”.

Tulisan itu bukan untuk media besar. Ia hanya ingin menuangkan keresahannya—tentang pendidikan yang timpang, tentang anak-anak kampung yang terpaksa berhenti sekolah, tentang guru-guru honorer yang hidup dalam ketidakpastian, tentang pejabat yang lupa pada janji, dan tentang rakyat kecil yang terus bertahan.

Ia menulis dengan jujur. Tajam, tapi tidak marah. Kritis, tapi tetap memberi ruang harapan.

Bu Ratna mengintip layar laptopnya. “Kau masih menulis hal-hal berat begitu?” “Kalau tidak ada yang menulis, Bu, siapa yang akan mengingatkan?” jawab Arga. Bu Ratna mengangguk pelan. “Kau benar. Harapan tidak lahir dari diam.”

Tulisan itu ia unggah di blog pribadinya. Tanpa promosi, tanpa ekspektasi. Namun dalam dua hari, tulisannya dibagikan ratusan kali. Komentar berdatangan, sebagian setuju, sebagian tidak. Tetapi satu hal yang membuat Arga terkejut: banyak pembaca menulis bahwa mereka merasa tidak sendirian setelah membaca tulisannya.

Salah satu komentar menarik perhatiannya:

“Saya guru di daerah terpencil. Terima kasih karena masih ada yang peduli. Tahun 2026 saya ingin tetap mengajar, meski keadaan belum berubah.”

Arga membaca komentar itu berulang kali. Dadanya menghangat.

Ia mulai rutin menulis. Setiap pagi di warung Bu Ratna, setiap sore di beranda rumah. Tema-temanya sederhana: harapan, kegagalan, dan keberanian untuk terus berjalan.

Tanpa disadari, blognya menjadi ruang bersama bagi banyak orang untuk berbagi cerita. Ada petani yang kehilangan lahan, mahasiswa yang hampir putus kuliah, perawat yang lelah tapi bertahan, dan anak muda yang bingung mencari arah.

Tahun 2026 pelan-pelan menunjukkan wajahnya: tidak mudah, tetapi jujur.

Suatu siang, Arga menerima pesan dari seorang perempuan bernama Nara. Ia mengaku sebagai relawan pendidikan yang sering membaca tulisan Arga.

“Kami sedang membangun komunitas belajar gratis untuk anak-anak di kampung pesisir. Maukah kamu datang dan menulis tentang mereka?”

Arga tidak ragu. Ia berangkat keesokan harinya.

Kampung itu jauh dari pusat kota. Jalanan berlubang, sinyal ponsel nyaris tak ada. Namun anak-anak menyambut dengan mata berbinar. Mereka belajar di sebuah balai bambu, dengan papan tulis seadanya.

Nara berdiri di tengah mereka, tersenyum. “Ini Arga. Dia suka menulis.”

Seorang anak kecil mengangkat tangan. “Kak, kalau aku belajar sungguh-sungguh, aku bisa jadi apa?” Arga terdiam sejenak. Lalu ia berjongkok, menatap mata anak itu.

“Kamu bisa jadi apa pun. Tapi yang paling penting, kamu jadi orang yang tidak menyerah.”

Anak itu tersenyum lebar.

Hari itu, Arga menulis bukan sebagai jurnalis, tetapi sebagai saksi. Ia menyadari bahwa harapan bukan konsep abstrak. Harapan adalah anak-anak yang tetap belajar meski tanpa fasilitas. Harapan adalah guru-guru relawan yang digaji nol rupiah tapi berhati penuh.

Tulisan tentang kampung pesisir itu viral. Sebuah media nasional menghubunginya. Mereka menawarkan kolom tetap.

Arga terdiam lama sebelum menjawab. Ia teringat kegagalannya di masa lalu, media yang tidak konsisten, janji-janji yang menguap.

Namun kali ini berbeda. Ia menetapkan satu syarat: kebebasan menulis dengan nurani. Mereka setuju.

Kolom Arga diberi judul “Catatan Harapan”. Setiap pekan, ia menulis tentang manusia-manusia kecil yang sering dilupakan. Ia tidak menggurui, tidak berteriak. Ia mengajak pembaca berpikir dan merasa.

Tahun 2026 berjalan dengan ritmenya sendiri. Tidak semua masalah selesai. Korupsi masih ada, ketimpangan belum lenyap, pendidikan masih tertatih. Namun suara-suara kecil mulai terdengar.

Dan Arga menjadi salah satu pengerasnya.

Pada suatu malam di bulan Desember 2026, Arga kembali duduk di beranda rumahnya. Langit malam hampir sama seperti setahun lalu. Namun hatinya berbeda.

Ia tidak menjadi kaya. Hidupnya masih sederhana. Tapi ia merasa utuh.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Nara.

“Terima kasih karena tidak berhenti menulis. Anak-anak di kampung sekarang punya perpustakaan kecil. Tulisanmu membantu.”

Arga tersenyum. Ia menatap langit.

“Terima kasih, 2026,” bisiknya. “Kau tidak sempurna, tapi kau memberiku harapan.”

Kembang api kembali menghiasi langit. Tahun baru akan datang lagi. Arga tahu, harapan bukan tentang menunggu keajaiban. Harapan adalah keberanian untuk terus melangkah, meski perlahan.

Dan selama masih ada yang percaya, harapan itu akan terus menyala.

TAMAT


Bionarasi Penulis
Sri Asmediati, S. Pd, kelahiran Sumbawa. Berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Labuhan Badas. Hobi menulis puisi juga menjadi penulis opini di koran lokal Sumbawa danmengisi beberapa kolom portal media online. Pada perayaan hari PGRI dan Korpri telah mendapat penghargaan dari Bupati Sumbawa sebagai Pengembang Literasi yang Produktif Menulis. Memiliki beberapa buku solo kumpulan puisi dan cerpen juga novel. Bisa dijumpai di IG. Asmediati5, dan Fb. Asmediati.